Saturday, April 21, 2012

096. Hubungan Konflik Dengan Prestasi Kerja

Banyak orang secara otomatis menganggap bahwa konflik berkaitan
dengan rendahnya prestasi kelompok maupun organisasi. Bab ini telah
menjelaskan bahwa asumsi seperti itu seringkali tidak benar. Konflik dapat bersifat
konstruktif atau destruktif bagi kelompok/subunit dan organisasi. Seperti terlihat
pada gambar 5. 1. bahwa konflik dapat terlalu tinggi yang terjadi pada kondisi C,
atau terlalu rendah seperti yang terjadi pada kondisi A. Pada kedua ekstrim
tersebut konflik berdampak disfungsional yaitu penurunan prestasi organisasi.
Ketika tingkat konflik yang terjadi terlalu rendah, maka prestasi rendah karena
kurangnya dorongan dan rangsangan. Orang merasakan lingkungannya terlalu
menyenangkan dan nyaman, dan responnya apatis dan terjadi adanya stagnasi. Jika
mereka tidak dihadapkan pada tantangan mereka tidak akan mencari cara-cara dan
ide-ide baru, dan organisasi lambat beradaptasi dengan perubahan dari faktor
lingkungan ekstern. Di sisi lain ketika tinggat kònflik yang terjadi sangat tinggi,
prestasi rendah karena kurangnya koordinasi dan kerjasama. Organisasi dalam
keadaan kacau balau, di mana masingmasing orang lebih banyak menghabiskan
waktunya untuk mempertahankan / membela dirinya dan menyerang kelompok
lain daripada melakukan tugas-tugas yang produktif.
Sedangkan konflik yang optimal terjadi pada kondisi B, di mana tingkat
konflik yang terjadi cukup untuk mencegah adanya stagnasi, mendorong adanya
kreativitas, menimbulkan dorongan untuk melakukan perubahan, dan mencari cara
terbaik untuk memecahkan masalah.

ocw.usu.ac.id/...keorganisasian/11_hubungan_konflik_dengan_prestasi

1 comments:

Atannael said...

thank you! bermanfaat banget loh.


:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Post a Comment